Dalam suatu proyek pembangunan, beton merupakan salah satu bahan utama yang digunakan. Beton merupakan campuran beberapa bahan batuan yang kemudian direkatkan menggunakan bahan ikat. Bahan penyusun beton menggunakan agregat kasar dan halus yang dicampurkan, lalu ditambahkan pasta semen.

Prinsip dari pembuatan beton adalah pasta semen yang mengikat pasir serta bahan agregat yang lain seperti basalt, batu kerikil, dan masih banyak lagi. Nah, rongga pada campuran agregat tersebut lah yang nantinya akan diisi dengan bahan halus. Sehingga, bahan penyusun beton harus memiliki perbandingan yang tepat supaya konstruksi bangunan menjadi lebih kuat.

Baca juga:

Harga Beton Cor

Umumnya, bahan penyusun beton terdiri atas semen, agregat campuran, air, serta bahan tambahan. Semua material tersebut akan dibahas lebih rinci pada ulasan di bawah ini!

Batu Beton

Salah satu bahan penyusun beton yang paling penting adalah batu beton. Dalam SNI, batu beton disebut dengan agregat kasar. Terdapat kandungan batu pecahan maupun kerikil yang fungsinya untuk tambahan campuran beton supaya menjadi lebih padat. Perusahaan beton yang berbeda memiliki standar yang tidak sama untuk memilih jenis batu yang dipakai.

Beberapa perusahaan memakai batu alam yang dipecah sehingga menjadi bagian-bagian yang kecil. Ada juga yang menggunakan batuan granit yang dipecahkan. Ukuran batu yang biasa digunakan adalah 20 hingga 75 mm.

Agregat kasar ini dipakai juga untuk kebutuhan infrastruktur badan jalan maupun campuran batu di sirtu. Ada 3 kelompok kerikil yang biasa dimanfaatkan untuk beton, yakni kerikil sungai, kerikil galian, serta kerikil pantai. Saat melakukan pengolahan beton, Anda juga dapat menggunakan batu split sebagai tambahan.

Pembagian ukuran batu beton jenis kricak diantaranya kricak halus dengan ukuran 5 hingga 10 mm. Ada juga kricak sedang dengan ukuran 10 hingga 20 mm, kricak kasar dengan ukuran 20 hingga 40 mm, serta kricak sangat kasar dengan ukuran 40 hingga 70 mm.

Pasir

Pasir tergolong sebagai agregat halus yang menjadi bahan utama yang menyusun beton. Ukuran agregat halus standar yang dibutuhkan oleh beton adalah 4,7 mm. Sebaiknya, Anda tidak memakai pasir yang memiliki ukuran lebih dari 5 mm karena menjadikan cetakan beton tidak baik.

Dalam ketentuan Standar Nasional Indonesia, agregat halus adalah kumpulan butiran pasir, batuan pecah, kerikil, serta mineral yang lain. Agregat halus diperoleh dari hasil pengolahan manusia maupun langsung dari alam.

Baca juga:

Harga Ready Mix

Ada dua kelompok pasir yaitu agregat halus dan kasar. Agregat halus terbuat dari butiran lubang ayakan dengan ukuran 4,75 mm, 4,8 mm, serta 5,0 mm. Sedangkan agregat kasar merupakan hasil yang tertinggal dari proses lubang ayakan. Ukuran pasir sebagai agregat kasar tentu lebih besar dari 4,75 mm, 4,8 mm, dan juga 5,0 mm.

Semen

Bahan penyusun beton yang selanjutnya adalah semen. Semen digunakan untuk membuat beton berjenis Portland. Kandungan material yang ada di dalam semen diantaranya pasir, agregat kerikil, dan juga air.

Semen akan membuat Anda lebih mudah dalam mencetak produk beton sehingga sesuai bentuk yang diinginkan.

Semen yang telah dicampurkan dengan air akan membentuk adonan dan adonan pun akan mengeras pada waktu beberapa jam saja. Produk beton akan mengering dan mencapai titik kekerasan yang maksimal sesudah 21 hari.

Baca juga:

Harga Beton Instan

Terdapat empat tipe semen Portland yang perlu diketahui. Pertama, ada semen tipe 1 yang digunakan untuk konstruksi secara umum. Jenis semen ini tidak membutuhkan syarat khusus untuk mengaplikasikannya.

Ada juga semen tipe 2 yang dipakai untuk konstruksi bangunan yang memiliki suhu tinggi. Pengaplikasiannya dipakai untuk pembangunan sarana publik laiknya landasan, dermaga, serta bendungan.

Sehingga, saat mengeringkannya diperlukan pengurangan air atau disebut juga dengan proses hidrolis.

Semen tipe 3 membutuhkan kekuatan tinggi untuk mengaplikasikannya. Sedangkan tipeĀ  dipakai untuk membuat bendungan serta lapangan udara yang butuh struktur concrete bervolume besar.

Sehingga, dibutuhkan tingkat panas yang rendah. Terakhir, ada tipe 5 yang dipakai untuk proses material beton bertulang. Proses aplikasinya memerlukan resistensi yang tinggi pada bahan sulfat.

Selain material di atas, ada juga bahan penyusun beton yang lain, yakni admixture atau bahan campuran. Contoh bahan admixture adalah pozolan yang digunakan sebagai bahan pengganti semen Portland. Demikian pembahasan terkait bahan penyusun beton, semoga bermanfaat.